Lie down, try not to cry,cry a lot...
Sudah lebih dari 1 minggu sejak
rilis, babak terbaru dari perjalanan panjang “Fast and Furious Series” yaitu
Fast Furious 7 merajai tangga box office 2015. Bisa dikatakan inilah seri fast
furious tersukses dan terbesar dalam pencapaian penjualan tiketnya. Tentu semua
itu tak bisa lepas karena nama besar Paul
Walker yang telah membintangi serial ini dari seri pertama hingga pertengahan
syuting FF7 , dimana 30 November 2013 Paul Walker meninggal karena kecelakaan mobil. Sungguh
kejadian kala itu membuat dunia perfilman berduka cita.
Hal itu tentu saja semakin membuat
banyak pecinta film penasaran dengan seri ke7 film Fast Furious yang rilis bulan April ini. Tingginya animo penonton akan film bergenre aksi balap ini tak
terbendung, pengunjung bioskop terus membludak hingga memaksa salah satu gedung
bioskop langganan saya harus membuka jam tayang tambahan guna mengantisipasi
antrian panjang penonton.
Adegan dibuka dengan menampilkan
villain yang dibintangi Jason Statham, berperan sebagai Dekard Shaw, agen rahasia super professional dan berbahaya dari london yang marah karena
pada seri sebelumnya sang adik Owen Shaw dibuat babak belur oleh tim FF. Tidak
terima, sang kakak pun menebar teror ke semua anggota FF. Teror dimulai dari
tokyo dimana Han kembali ke jepang di seri FF tokyo drift. Han terbunuh setelah
menabrak mobil dekard tatkala aksi kejar kejaran.
Rumah toretto tak luput dari
incaran, sebuah paket dari tokyo yang dikira dari Han ternyata sebuah bom. Aksi
cepat torreto membuat mia dan keluarga lolos dari maut. Sebelumnya hobbs the
rock juga dihajar habis-habisan dimarkas sendiri. Adegan Pertarungan tangan
kosong antara hobbs dan dekard disuguhkan dengan pengambilan sudut gambar yang
atraktif. Pertarungan berakhir dengan kekalahan hobbs, diapun diganjar dengan
cidera parah dan harus dirawat.
Tak pelak serangkaian kejadian
tersebut membuat torreto marah besar, selain memburu dekard baginya misi
terpenting saat itu adalah melindungi keluarganya. Torreto terbang ke jepang
mengambil jasad han dan menggali informasi. Disini adegan terakhir seri tokyo
drift tersambung kembali, sean boswell sang drifter bertemu torreto dan berbagi
informasi seputar kematian han. Tak banyak petunjuk didapat, hanya peninggalan
berupa foto gisele sang pacar han dan sebuah kalung salib.
Plot berkembang cukup baik,
sebuah agen rahasia tiba-tiba muncul dan membantu torreto. Bantuan ditawarkan
namun dengan konsekuensi cukup berat. Resiko tinggi dalam menjalankan aksi siap
menanti. Tim FF pun kembali dibentuk, lengkap dengan brian o Conner disepanjang
film. Perpaduan teknologi CG serta peran pengganti sang adik paul walker
menjadikan sosok brian o conner mampu “hidup” kembali dan membuatnya ikut
beraksi walau sudah tiada.
Selanjutnya, jalan cerita
mengerucut menuju klimaks. Lewat sebuah teknologi kontroversial yang disebut
“God Eye”, tim FF dituntut untuk melakukan misi-misi berbahaya. Diantara
sederet aksi dalam misi tersebut, yang membuat saya cukup tercengang adalah
keberadaan mobil super langka “Lykan Hyper-Sport”. Diceritakan pemiliknya
adalah seorang miliarder di Abu Dhabi, yang secara kebetulan membeli
perangkat “speedometer digital”. Tak sembarang speedometer, ternyata didalamnya
terdapat microchip aktivator sistem “God Eye”, sebuah teknologi mesin pencari
super, yang menggabungkan data digital dari seluruh dunia berupa data pribadi,
data rekaman ponsel, cctv dan semua data yang terkoneksi dengan jaringan. Tak
ada seorangpun dibumi yang akan lolos dari pantauan “God Eye”, termasuk Dekard
Shaw.
| Lykan Hypersport, hanya 7 unit didunia, terjual 3 unit, harganya 3,4 juta dollar, setara 43,7 miliar rupiah |
Menjelang akhir, menampilkan
scene spektakuler dimana tim FF bekerjasama dengan seorang hacker berusaha
meretas sistem God Eye, tak semudah itu, unit Predator Drone musuh dengan
beringas mengincar nyawa sang hacker. Sungguh merupakan puncak aksi yang memacu
adrenalin, dikemas apik dalam visual efek yang menantang.
Tibalah di penghujung film,
penonton akan diajak untuk bermelow ria, sebuah adegan dimana keluarga besar FF berkumpul penuh kedamaian di pantai, seketika penonton akan dibawa untuk mengenang sang aktor yang telah berpulang,
meninggalkan keluarga tercinta dan para penggemarnya. Mengingatkan kita bahwa Kematian
adalah sebuah proses, proses terpisahnya arwah dan ruh, proses terpisahnya
jalan takdir seseorang, yang hidup akan terus berjuang dan berbenah diri, dan
jiwa si mati akan tetap kekal dan dikenang oleh kerabatnya. Toretto dan Brian o
Connor, harus berpisah dijalur masing-masing. Momen yang membuat saya “mbrebes
mili” dalam hati. Sampai jumpa paul, terima kasih brian o connor!
0 komentar:
Posting Komentar