Rabu, 15 April 2015

Sinopsis : Fast Furious 7



Lie down, try not to cry,cry a lot...

Sudah lebih dari 1 minggu sejak rilis, babak terbaru dari perjalanan panjang “Fast and Furious Series” yaitu Fast Furious 7 merajai tangga box office 2015. Bisa dikatakan inilah seri fast furious tersukses dan terbesar dalam pencapaian penjualan tiketnya. Tentu semua itu tak bisa lepas karena  nama besar Paul Walker yang telah membintangi serial ini dari seri pertama hingga pertengahan syuting FF7 , dimana 30 November 2013 Paul Walker meninggal karena kecelakaan mobil. Sungguh kejadian kala itu membuat dunia perfilman berduka cita.

Hal itu tentu saja semakin membuat banyak pecinta film penasaran dengan seri ke7 film Fast Furious yang rilis bulan April ini. Tingginya animo penonton akan film bergenre aksi balap ini tak terbendung, pengunjung bioskop terus membludak hingga memaksa salah satu gedung bioskop langganan saya harus membuka jam tayang tambahan guna mengantisipasi antrian panjang penonton.

Adegan dibuka dengan menampilkan villain yang dibintangi Jason Statham, berperan sebagai Dekard Shaw, agen rahasia super professional dan berbahaya dari london yang marah karena pada seri sebelumnya sang adik Owen Shaw dibuat babak belur oleh tim FF. Tidak terima, sang kakak pun menebar teror ke semua anggota FF. Teror dimulai dari tokyo dimana Han kembali ke jepang di seri FF tokyo drift. Han terbunuh setelah menabrak mobil dekard tatkala aksi kejar kejaran. 

Rumah toretto tak luput dari incaran, sebuah paket dari tokyo yang dikira dari Han ternyata sebuah bom. Aksi cepat torreto membuat mia dan keluarga lolos dari maut. Sebelumnya hobbs the rock juga dihajar habis-habisan dimarkas sendiri. Adegan Pertarungan tangan kosong antara hobbs dan dekard disuguhkan dengan pengambilan sudut gambar yang atraktif. Pertarungan berakhir dengan kekalahan hobbs, diapun diganjar dengan cidera parah dan harus dirawat.

Tak pelak serangkaian kejadian tersebut membuat torreto marah besar, selain memburu dekard baginya misi terpenting saat itu adalah melindungi keluarganya. Torreto terbang ke jepang mengambil jasad han dan menggali informasi. Disini adegan terakhir seri tokyo drift tersambung kembali, sean boswell sang drifter bertemu torreto dan berbagi informasi seputar kematian han. Tak banyak petunjuk didapat, hanya peninggalan berupa foto gisele sang pacar han dan sebuah kalung salib.

Plot berkembang cukup baik, sebuah agen rahasia tiba-tiba muncul dan membantu torreto. Bantuan ditawarkan namun dengan konsekuensi cukup berat. Resiko tinggi dalam menjalankan aksi siap menanti. Tim FF pun kembali dibentuk, lengkap dengan brian o Conner disepanjang film. Perpaduan teknologi CG serta peran pengganti sang adik paul walker menjadikan sosok brian o conner mampu “hidup” kembali dan membuatnya ikut beraksi walau sudah tiada.

Selanjutnya, jalan cerita mengerucut menuju klimaks. Lewat sebuah teknologi kontroversial yang disebut “God Eye”, tim FF dituntut untuk melakukan misi-misi berbahaya. Diantara sederet aksi dalam misi tersebut, yang membuat saya cukup tercengang adalah keberadaan mobil super langka “Lykan Hyper-Sport”. Diceritakan pemiliknya adalah seorang miliarder di Abu Dhabi, yang secara kebetulan membeli perangkat “speedometer digital”. Tak sembarang speedometer, ternyata didalamnya terdapat microchip aktivator sistem “God Eye”, sebuah teknologi mesin pencari super, yang menggabungkan data digital dari seluruh dunia berupa data pribadi, data rekaman ponsel, cctv dan semua data yang terkoneksi dengan jaringan. Tak ada seorangpun dibumi yang akan lolos dari pantauan “God Eye”, termasuk Dekard Shaw.

Lykan Hypersport, hanya 7 unit didunia, terjual 3 unit, harganya 3,4 juta dollar, setara 43,7 miliar rupiah

Menjelang akhir, menampilkan scene spektakuler dimana tim FF bekerjasama dengan seorang hacker berusaha meretas sistem God Eye, tak semudah itu, unit Predator Drone musuh dengan beringas mengincar nyawa sang hacker. Sungguh merupakan puncak aksi yang memacu adrenalin, dikemas apik dalam visual efek yang menantang.

Tibalah di penghujung film, penonton akan diajak untuk bermelow ria, sebuah adegan dimana keluarga besar FF berkumpul penuh kedamaian di pantai, seketika penonton akan dibawa untuk mengenang sang aktor yang telah berpulang, meninggalkan keluarga tercinta dan para penggemarnya. Mengingatkan kita bahwa Kematian adalah sebuah proses, proses terpisahnya arwah dan ruh, proses terpisahnya jalan takdir seseorang, yang hidup akan terus berjuang dan berbenah diri, dan jiwa si mati akan tetap kekal dan dikenang oleh kerabatnya. Toretto dan Brian o Connor, harus berpisah dijalur masing-masing. Momen yang membuat saya “mbrebes mili” dalam hati. Sampai jumpa paul, terima kasih brian o connor!



0 komentar:

Posting Komentar