Kamis, 26 Maret 2015

GUCIKU : Kalkulator gila si warung “matengan”

Tepat minggu ketiga bulan maret 2015, menjadi weekend paling “kering” di awal tahun 2015 ini. Akibat biaya renovasi pawon dan wc rumah yang membengkak, saya pun terpaksa merogoh kocek dalam-dalam sampai tembus ke kocek tetangga. Sebenarnya malu juga sih mengingat prinsip hidup saya yang serba sungkan kalo harus ngrepoti orang lain, namun demi kelangsungan proyek pawon dan dapur rumah orang tua saya itu, saya rela melakukan apapun yg penting halal. Ujungnya saya harus merelakan hampir semua gaji bulan lalu ditambah pinjaman dari rekan sekantor.

Sambil berjalan terseok-seok dengan seperempat paru-paru yang tersisa, eh minggu lalu terlanjur janji dengan teman-teman untuk ngadain acara touring atau sekedar traveling melepas penat yang sebenarnya sudah menjadi agenda rutin kita. Namun mengingat kejadian merogoh kocek tadi, hasrat menggebu untuk bersuka ria  berwujud travelling musti terancam dibatalkan.

Tapi tetap saja yang namanya anak muda, disaat kondisi sekritis apapun, pokoknya segala acara berbau have fun harus tetap terlaksana. Demi alasan efisiensi, tranportasi dengan motor di coret, otak atik dapet cadangan avanza grup sebelah yg emg kalo weekend pada mudik ke istri masing2. Yes, kosong nih mobil. Singkat cerita Sabtu sore abis magrib kita berangkat dengan menjunjung tinggi semangat patungan dan persaudaraan. Dari pekalongan sekitar jam 18.30 nyampe guci itu sekitar jam 21.30.

Sesampai dilokasi, mobil kami parkir didepan hotel Duta Wisata, tapi gak nginep disana. Cuma nitip parkir mobil saja. Sembari keliling mencari kudapan malam. Seperti biasa, hawa dingin guci memang terasa sangat menusuk begitu keluar dari mobil. Muter-muter eh gak nemu-nemu juga warung yang cocok. Karena rasa lapar sudah tak tertahankan lagi, spontan mampirlah kita ke sebuah warung “matengan” random yang terletak disebuah gang menuju kali pancuran. Disana memang berjajar warung-warung penjaja makanan dan souvenir. Entah bujukan setan apa yang membuat teman saya si harno akhirnya memilih warung “matengan” itu. Sekilas menunya biasa saja, sajiannya mirip2 lauk warung padang yang umumnya beredar. Kami berlima langsung dipersilakan masuk dan memesan minuman. Untuk sistem makan nya ternyata prasmanan. Ah lumayan ini, bisa milih macem2 sesuka hati. Tapi perasaan saya tidak enak, perasaan aneh yang membuat saya enggan untuk makan macem2, serasa ada sesosok iblis kebangkrutan yang sedang mengintai kami berlima. Karena memang prinsip kami dari awal adalah penghematan maka kami sepakat mengambil menu yang standar, nasi dengan lauk telur dadar, perkedel dan “horek” tempe dan teh manis hangat. Kami makan dengan penuh damai, sesekali diselingi candaan dan berebut  update status di path.

Lokasi kolam air panas Guci yang gratisan, rame banget kalo siang

Perut kenyang, sebatang rokok LA ice jg tandas, saatnya berhitung....sang penjual dengan cekatan memegang kalkulator dan satu per satu menu kami dihitung. Baru sampai pada hitungan satu orang...angka kalkulator iblis itu sudah bergerak ke level Rp. 19.200,- hingga akhirnya berujung ke hitungan terakhir...voila..didapat total tagihan Rp. 96.000,- .. what the **** sebuah angka diluar prediksi kami untuk sebuah menu nasi telur dadar perkedel teh manis, meluluhlantahkan semua perhitungan sistematis mode efisien yang telah kami bangun dan rencanakan selama perjalanan. Ingin rasanya mengajukan gugatan pra peradilan untuk ibu2 yang telah diperalat kalkulator gendeng itu, namun apa daya, bukti-bukti telah lenyap ditelan perut perut lapar . 

Ah sudahlah, semoga cukup kami saja yang terjebak, setidaknya kami masih bersyukur. Bayangkan saja apabila saya gelap mata dan mengambil semua lauk berjenis daging/ikan..bisa2 kami pulang dengan personil tidak lengkap karena terpaksa salah satu dari kami harus dijadikan tumbal “rewang asah2” sebagai pengganti biaya makan.

0 komentar:

Posting Komentar