Tepat minggu ketiga bulan maret
2015, menjadi weekend paling “kering” di awal tahun 2015 ini. Akibat biaya
renovasi pawon dan wc rumah yang membengkak, saya pun terpaksa merogoh kocek
dalam-dalam sampai tembus ke kocek tetangga. Sebenarnya malu juga sih mengingat
prinsip hidup saya yang serba sungkan kalo harus ngrepoti orang lain, namun
demi kelangsungan proyek pawon dan dapur rumah orang tua saya itu, saya rela melakukan
apapun yg penting halal. Ujungnya saya harus merelakan hampir semua gaji bulan
lalu ditambah pinjaman dari rekan sekantor.
Sambil berjalan terseok-seok
dengan seperempat paru-paru yang tersisa, eh minggu lalu terlanjur janji dengan
teman-teman untuk ngadain acara touring atau sekedar traveling melepas penat
yang sebenarnya sudah menjadi agenda rutin kita. Namun mengingat kejadian
merogoh kocek tadi, hasrat menggebu untuk bersuka ria berwujud travelling musti terancam dibatalkan.
Tapi tetap saja yang namanya anak
muda, disaat kondisi sekritis apapun, pokoknya segala acara berbau have fun
harus tetap terlaksana. Demi alasan efisiensi, tranportasi dengan motor di
coret, otak atik dapet cadangan avanza grup sebelah yg emg kalo weekend pada
mudik ke istri masing2. Yes, kosong nih mobil. Singkat cerita Sabtu sore abis
magrib kita berangkat dengan menjunjung tinggi semangat patungan dan
persaudaraan. Dari pekalongan sekitar jam 18.30 nyampe guci itu sekitar jam
21.30.
Sesampai dilokasi, mobil kami
parkir didepan hotel Duta Wisata, tapi gak nginep disana. Cuma nitip parkir
mobil saja. Sembari keliling mencari kudapan malam. Seperti biasa, hawa dingin
guci memang terasa sangat menusuk begitu keluar dari mobil. Muter-muter eh gak
nemu-nemu juga warung yang cocok. Karena rasa lapar sudah tak tertahankan lagi,
spontan mampirlah kita ke sebuah warung “matengan” random yang terletak
disebuah gang menuju kali pancuran. Disana memang berjajar warung-warung
penjaja makanan dan souvenir. Entah bujukan setan apa yang membuat teman saya
si harno akhirnya memilih warung “matengan” itu. Sekilas menunya biasa saja, sajiannya
mirip2 lauk warung padang yang umumnya beredar. Kami berlima langsung
dipersilakan masuk dan memesan minuman. Untuk sistem makan nya ternyata
prasmanan. Ah lumayan ini, bisa milih macem2 sesuka hati. Tapi perasaan saya
tidak enak, perasaan aneh yang membuat saya enggan untuk makan macem2, serasa
ada sesosok iblis kebangkrutan yang sedang mengintai kami berlima. Karena
memang prinsip kami dari awal adalah penghematan maka kami sepakat mengambil
menu yang standar, nasi dengan lauk telur dadar, perkedel dan “horek” tempe dan
teh manis hangat. Kami makan dengan penuh damai, sesekali diselingi candaan dan
berebut update status di path.
![]() |
| Lokasi kolam air panas Guci yang gratisan, rame banget kalo siang |
Perut kenyang, sebatang rokok LA
ice jg tandas, saatnya berhitung....sang penjual dengan cekatan memegang
kalkulator dan satu per satu menu kami dihitung. Baru sampai pada hitungan satu
orang...angka kalkulator iblis itu sudah bergerak ke level Rp. 19.200,- hingga
akhirnya berujung ke hitungan terakhir...voila..didapat total tagihan Rp.
96.000,- .. what the **** sebuah angka diluar prediksi kami untuk sebuah menu
nasi telur dadar perkedel teh manis, meluluhlantahkan semua perhitungan sistematis
mode efisien yang telah kami bangun dan rencanakan selama perjalanan. Ingin rasanya
mengajukan gugatan pra peradilan untuk ibu2 yang telah diperalat kalkulator gendeng
itu, namun apa daya, bukti-bukti telah lenyap ditelan perut perut lapar .
Ah sudahlah, semoga cukup kami
saja yang terjebak, setidaknya kami masih bersyukur. Bayangkan saja apabila
saya gelap mata dan mengambil semua lauk berjenis daging/ikan..bisa2 kami pulang
dengan personil tidak lengkap karena terpaksa salah satu dari kami harus dijadikan
tumbal “rewang asah2” sebagai pengganti biaya makan.

0 komentar:
Posting Komentar