Bulan Januari 2014, beberapa stasiun televisi selalu saja ramai memberitakan bencana banjir yang seringkali melanda wilayah-wilayah di ibu kota. Seperti biasa, bak seperti kacang goreng, berita banjir seakan menjadi sajian kita sehari hari menemani kegiatan di bulan Januari setiap tahunnya.
Namun jika biasanya banjir hanya terfokus pada daerah2 yang notabene memiliki masalah pada sistem drainase dan juga lingkungan yang amburadul akibat pengelolaan sampah yang buruk seperti jakarta contohnya, kali ini saya cukup terkejut dan terheran heran...banjir jakarta sudah sampai di depan kost saya..tepat nya di kota pekalongan..
Sebetulnya memang jika terjadi hujan yang cukup lebat, jalanan di sekitar gang kost tepatnya di daerah kramat sari sering kali tergenang air, namun paling banter cuma setinggi mata kaki. Itupun bisa dikatakan hanya "banjir lokal" yang terjadi hanya di sekitar jalan angkatan 66 akibat sistem pembuangan air alias selokan yang mampet. Awal Januari ini agaknya lain, derasnya guyuran hujan yang sejak hari kamis tanggal 16 sampai dengan puncaknya Jum'at pagi tanggal 17 menyebabkan hampir seluruh wilayah Pekalongan terendam air.
Saya sendiri mulai merasa was-was dengan kejadian ini, mengingat lokasi kost yang cukup berpotensi terkena banjir, namun ketika saya amati sampai dengan hari sabtu pagi tanggal 18 , derasnya air hujan hanya menggenangi jalan gang 9 kramatsari setinggi kurang lebih 5 cm, masih agak jauh dari lantai rumah kost. Alhamdulillah, cukup beruntung memang melihat rumah - rumah disekitar gang depan sudah banyak yang kemasukan air. namun bisa jadi, jika terus2an hujan seperti hari Jum'at itu, tidak bisa dipungkiri lagi jika kost an lama kelamaan akan ikut terendam juga, semoga hujan derasnya cukup kemarin saja ya.. Amien
Jika ketinggian air depan kost belum sempat membasahi dengkul, lain halnya di beberapa tempat rawan banjir lainnya di pekalongan. saya mengamati lewat timeline twitter, dengan hash tag #infopkl, cukup mengejutkan. Banyak sekali kicauan berisi berita tentang banjir yang melanda. Adapun komentar yang menyebutkan bahwa banjir di pekalongan memang sudah biasa setiap tahunnya, namun kali ini yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut pihak Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUPT) Kota Pekalongan Marsudi, Secara topografi, Kota Pekalongan terletak pada dataran cekung, makanya banjir terjadi. Tidak ada penyebab banjir akibat luapan sungai maupun saluran irirasi tersumbat. Begitu komentar beliau.
Sedikit kontroversial memang jika kita telaah kembali pernyataan beliau, dengan kata lain, mau system drainase dan pembuangan sampah kita perbaiki pun toh kalo musim hujan yo podo wae…tetep saja pekalongan akan banjir..
Lantas apakah pemerintah kota akan berdiam diri dan tidak melakukan usaha – usaha preventif di kemudian hari , melihat banyak masyarakat yang menderita dan kesusahan akibat bencana banjir ini? Pripun pak wali kota?pernahe piye?
berikut adalah daftar beberapa wilayah di kota pekalongan yang tergenang air cukup parah menurut berbagai sumber :
1. Kecamatan Tirto yaitu Desa, Karanjompo, Jeruk Sari, Tegaldowo, Pacar, dan Mulyorejo.
2. Kecamatan Siliwangi yaitu Desa Yosorejo, Depok, Boyoteluk, Blimbingwuluh, dan Blancanan.
3. Kecamatan Wonoketo yaitu di Desa Sijembe, Pasanggrahan, Pecakaran, Bebel, Tratebang, Werdi, Rowoyoso, Semut, Api-api, Wonokerto Kulon, dan Wetan.
4. Kecamatan Buaran yaitu di Desa Siwalan, dan Desa Kertija.
Data tersebut diungkapkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko, Sabtu (18/1/2014). Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmah. Bagi sahabat blogers yang kebetulan mempunyai saudara atau rekan di daerah tersebut, agar dihimbau waspada siaga banjir.



0 komentar:
Posting Komentar